Sabtu, 07 November 2015

Kapan Profesional ?

Kapan Profesional ?
#SbT

Jengkel. Kesal. Pasti akan datang dalam diri masing-masing pribadi kita ketika itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Aku akan mulai bercerita tentang kita. Tentang bagaimana kita profesional. Bagaimana kita bisa mengelastiskan diri.
Dulu aku di usung oleh partai besar untuk duduk sebagai anggota dewan di tingkat nasional. Awalnya aku ragu, takut tak amanah, tak bisa menciptakan sesuatu yang benar menjadi benar dan yang salah menjadi salah. Takut tak bisa membagi waktu antara tugas sebagai anggota dewan dan tugas kepartaian. Entah rayuan ataupun apa aku mengiyakan semua yang di janjikan oleh partai pengusung ku.

Pendaftaran yang menjadi syarat utama menjadi anggota dewan tak aku urus karena hati ini masing meragukan nya. Tapi aku tak tau kenapa dalam berkas-berkas yang ada sudah ada namaku disana sebagai salah satu bakal calon anggota dewan. Sebelumnya aku tak pernah membentuk Tim pemenangan apalagi tim kampanye setiap bakaln calon anggota dewan. Hingga aku menerima sebagai anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Verifikasi berkas dan kelengkapan yang kurang aku lakukan dengan sigap. Karena sebelumnya telah ku pikirkan dengan proses yang panjang. Mungkin disini aku bisa menjadi orang yang bisa memperbaiki kehancuran negeri yang entah berantah ini. menjadi profesionalisme. Menjadi orang yang berguna untuk semua elemen masyarakat. Mendedikasikan diri untuk menciptakan negeri yang bermartabat, bermarwah. Hingga aku bertekat untuk membabat semua proses, kebijakan, kerjasama luar negeri yang tak sesuai dengan aturan main di negeri ini.  tak ada mengenal kata kawan untuk masalah ini. aku coba profesional dengan semua ini, kawan.

Masa kampanye aku lalui seperti biasa tanpa ada kesiapan dan umbar janji seperti kebanyakan orang. Bahkan aku tak ada mengeluarkan materil yang mengharuskan merogoh kantong dalam-dalam apalagi berhutang kemana-mana. Tidak seperti itu kawan.
Proses dan tahapan pemilu aku ikuti dengan seksama. Hingga tiba saatnya pengumuman anggota dewan diumumkan.  Sebelumnya aku tak menggunakan tim penghitung suara dari partai apa lagi buatan sendiri. Aku hanya menunggu proses nyata dari Komisi Pemilihan Umum, sebagai lembaga yang berwajib mengumumkan itu semua. Hingga aku diumumkan sebagai calon yang mempunyai kekuatan tertinggi di daerah pemilihan, menempati urutan suara terbanyak pertama di daerah pemilihan dari sekian partai yang bertanding di pemilu tahun ini.

Alhamdulillah aku syukuri denga semua yang ada. Namun amanah ini pasti berat kawan. Tapi apalah daya, aku tak punya kekutan yang dapat ditolak karena aku sudah mengiyakan semua nya. Tinggal bagaimana aku menjalankan semua proses yang ada secara profesiaonal.

Duduk di ketua komisi yang menangani Konstitusi negara, membuat aku harus lebih giat lagi belajar, memahami semua peraturan yang ada. Hingga proses peraturan perundang-undangan yang ada tak bisa lolos dari hadapan komisi ini. produk-produk hukum yang ada sudah selesai tinggal menunggu waktu yang tepat untuk proses di lakukan sidang paripurna menempatkan nya dalam peraturan perundang-undangan Nasional.

1 tahun berlaku semua masih baik. Sepak terjang semua anggota dewan masih tak kelihatan siapa yang bermuka belang. Namun setelah berjalan beberapa bulan dari pasca penepatan APBN. Semua pada ricuh. Sibuk sendiri. Belum lagi kita disibukkan dengan hubungan kerja sama luar negeri yang tak sesuai dengan prosedur pemberlakuan hukum dalam negeri. Prusahaan asing dengan mudah diberi izin ikut menghancurkan negeri dengan embel-embel investasi. Organisasi luar negeri yang tidak menjadi kolega atau mitra di babat habis dari bumi pertiwi tanpa melihat hasil yag diberikan bagi negeri. Tapi ketika itu termasud kolega dan mitra yang disana ada pemerintah yang tak tau apa yang sebenarnya ia lakukan di negeri ini. hingga pemerintah memberikan IZIN masuk. Namum itu semua hanya ucapan masih dimulut oleh organisasi tersebut. Tak ada wujud nyata pembuatan program yang dijanjikan.

Aku sebagai anggota dewan dengan sigap melakukan berbagai macam cara untuk mengusir organisasi tersebut. Tapi dan ternyata anggota dewan yang lain sudah DISUAP hingga tutup mulut. Tak berbicara sepatah kata pun. Jengkel, geram. Permainan busuk ini menunjukan bahwa negeri ini krisis orang jujur yang bisa profesional dalam kerja. Hancur dalam akhlak. Percuma berbicara akhlak, kejujuran, tapi semua hanya ucapan yang tak kunjung terealisasi.

Semangat ku pun mulai menurun tapi entah lah. Aku mulai menyadari untuk tidak melakukan sesuatu yang itu malah menghancurkan diri sendiri dengan mundur dari jabatan. Tapi kalau tidak kita yang mengubah kahancuran, kejelekan ini siapa lagi ?. kalau tidak sekarang kapan lagi ? #Pikirku dalam hati.

#SbT


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda