Kamis, 24 Oktober 2024

Modul 3.1 " Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin"


 Panduan Pertanyaan untuk membuat Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi Antarmateri):
  • Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangunkarsa, Tut Wuri handayani merupakan sebuah pedoman bagi seorang pemimpin khususnya pemimpin pembelajaran.

Ing Ngarso Sung Tulodho yang mempunyai pengertian Didepan menjadi contoh. Seorang pemimpin yang baik dalam mengambil sebuah Keputusan, akan selalu mempertimbangkan dampak dari Keputusan yang diambilnya tersebut terhadap orang lain, Apakah Keputusan yang diambil tersebut dapat menjadi contoh yang baik untuk yang dipimpin?

Ing Madya Mangunkarsa yang mempunyai pengertian Ditengah membangun semangat. Pada proses pengambilan Keputusan, pemimpin yang baik harus melibatkan anggota timnya, mendengarkan masukan dan pendapat dari tim untuk mengambil sebuah keputusan, sehingga keputusan yang diambil merupakan keputusan yang terbaik yang dapat meningkatkan tanggungjawab dan rasa memiliki dari seluruh anggota tim.

Tut Wuri Handayani yang memiliki pengertian Dibelakang memberikan dorongan. Seorang pemimpin harus mampu memberikan dukungan, dorongan dan bimbingan kepada yang dipimpin dalam melaksanakan keputusan yang telah diambil, serta pemimpin yang baik harus siap melakukan evaluasi dan memperbaiki keputusan jika hal tersebut perlu dilakukan.

Maka dari filosofi Prapta Triloka tersebut dapat kita lihat, bahwa seorang pemimpin khususnya pemimpin pembelajaran harus dapat menjadi seorang yang inspiratif, motivator dan pendukung bagi orang-orang yang dipimpinnya.

  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Guru sebagai pendidik harus memiliki nilai-nilai positif yang mampu menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan sesuai dengan situasi yang dihadapi dengan mempertimbangkan 3 prinsip dalam pengambilan keputusan.

  • Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).

Coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya (Whitmore, 2003). Coaching sebagai “…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.” (International Coach Federation -ICF).

Dalam materi pengambilan keputusan yang dipelajari memiliki hubungan erat dengan kegiatan coaching (bimbingan) pada modul sebelumnya. Coaching juga sangat membantu mengatasi keraguan akan Keputusan yang telah diambil, dan coaching juga dapat membantu kepercayaan diri dalam membuat suatu keputusan. Pada proses coaching kita membentu coachee dalam menentukan atau mengambilan keputusan sedangkan pada modul ini kita merefleksikan apakah keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan, menjadi win-win solution ataukah justru akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

 

  • Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
  • Kemampuan seorang guru dalam menghadapi aspek sosial dan emosional sangat mempengaruhi pengambilan keputusan, khususnya  dilema etika. Guru yang berempati memahami perasaan dan kebutuhan siswanya dengan mempertimbangkan perspektif yang berbeda sebelum mengambil keputusan. Guru yang memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi serta memahami perasaan dan nilai dirinya mampu menghindari pengaruh bias pribadi terhadap keputusannya. Guru yang berkompeten dan mempunyai keterampilan sosial yang baik dapat dengan mudah mengkomunikasikan permasalahan yang ada kepada siswa, rekan kerja, dan orang tua dengan cara mengidentifikasinya sebelum mengambil keputusan. Seorang guru yang berwawasan sosial juga selalu mempertimbangkan dampak keputusan yang diambil terhadap orang lain.
  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pada langkah pertama pengambilan keputusan, seorang pemimpin harus bisa mengenali nilai – nilai kebenaran yang saling bertentangan. Di sinilah nilai – nilai yang selama ini tertanam berperan dalam identifikasi nilai benar/salah. Pada uji intuisi seseorang akan membandingkan dan mengkonfirmasi apakah suatu keputusan sesuai dengan kode etik keprofesian dan nilai – nilai kebajikan yang selama ini diyakini.

  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya akan berdampak positif pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan yang tepat harus dilakukan dengan cara yang tepat pula. Disesuaikan dengan situasi yang terjadi dengan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal, berpihak pada murid dan dapat dipertanggungjawabkan. Saat keputusan yang diambil sudah tepat. maka akan tercipta lingkungan yang positif. kondusif. aman dan nyaman. tidak ada pihak yang merasa dirugikan, semua akan mendapatkan solusi atas permasalah yang dihadapi.

Agar keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat maka harus berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. Dengan melaksanakan prosedur pengambilan keputusan yang mengakomodir banyak pertimbangan dan pandangan dari berbagai sisi tentu saja akan melahirkan sebuah keputusan yang baik.

  • Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

antangan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus yang sifatnya dilemma etika adalah perasaan tidak enak yang timbul karena tidak dapat memuaskan semua pihak. Namun dengan berpedoman pada 4 paradigma, 3 prinsip serta mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan dapat meminimalkan perasaan tidak nyaman dan keputusan yang saya ambil dapat diterima oleh semua pihak.

  • Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
  • Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid -murid kita (Pembelajaran yang berpusat pada murid) adalah terciptanya merdeka belajar. Keputusan untuk memerdekakan murid merupakan proses untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Untuk memutuskan pemenuhan belajar murid, bisa menggunakan pembelajaran berdiferensiasi.
  • Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil oleh para pemimpin pembelajaran tidak diragukan lagi mempunyai dampak jangka panjang dan jangka pendek terhadap siswa. Keputusan yang  kita buat dan tindakan yang kita ambil dicatat dan dijadikan sebagai model tentang apa dan bagaimana siswa kita akan berpikir dan bertindak di masa depan. Penjelasan ini menjadi landasan bahwa  keputusan  pendidik harus tepat, benar, dan bijaksana melalui analisis dan pertimbangan yang matang mengenai benar dan salah. Saat mengambil keputusan, pemimpin hendaknya menggunakan sembilan langkah pengambilan keputusan untuk fokus pada pembelajaran guna memaksimalkan potensi siswa.

  • Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pemebelajaran modul 3.1 adalah bahwa sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru harus dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai – nilai kebajikan sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan berpihak pada murid. Sesuai dengan ajaran KHD bahwa pendidikan adalah menuntun murid mencapai kebahagiaan (modul 1.1).

Sebagai penuntun murid, guru penggerak kita memiliki peran berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif (modul 1.2). Dalam pengambilan keputusan kita akan mengaplikasikan kelima peran guru penggerak. Selain berpihak pada murid, guru harus mandiri dan reflektif. Setiap keputusan yang diambil dievaluasi secara mandiri dan dibuat refleksi untuk memastikan dampak positif dari pengambilan keputusan.

Guru diharapkan menjadi pemrakarsa perubahan, hal ini melibatkan banyak pengambilan keputusan yang besar. Sebagai acuan guru dapat menyusun visi yang berorientasi ke depan untuk diri, murid, dan sekolah secara keseluruhan. Langkah yang dapat ditempuh adalah dengan BAGJA (Buat Pertanyaan – Ambil Pelajaran – Gali Mimpi – Atur Eksekusi – Jabarkan Rencana) (modul 1.3). Melalui langkah – langkah ini dapat dipahami bahwa setiap keputusan membuat suatu perubahan semuanya mengedepankan manfaat dan evaluasi untuk memastikan apa yang dijalankan adalah sesuai dengan visi masa depan.

Visi akan terwujud jika budaya positif di sekolah sudah terwujud. Ada keyakinan kelas maupun sekolah yang disepakati bersama. Jika ada penyimpangan, dilakukan penyelesaian masalah dengan segitigita restitusi sehingga pihak – pihak yang terlibat menyadari kesalahannya dan menemukan solusi atas permasalahannya (modul 1.4). Disini sering terjadi juga dilema etika dan bujukan moral yang harus dikenali dengan baik oleh pemimpin pembelajaran sehingga keputusan yang dihasilkan adalah tepat dan berdampak positif. Dengan demikian akan terwujud masyarakat sekolah yang harmonis dan berdisiplin positif.

Visi dalam pembelajaran tentunya memenuhi kebutuhan setiap murid. Guru dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi untuk memfasilitasi murid dengan berbagai kemajemukan gaya belajar dan tingkat kesiapan (modul 2.1). Dengan bantuan tes diagnostik dan karakteristik materi yang akan dipelajari oleh murid, seorang guru harus membuat suatu keputusan model dan strategi pembelajaran yang akan dipilih. Hal ini tentu membutuhkan banyak pertimbangan dan perencanaan. Keputusan macam diferensiasi yang akan dipilih dan dikembangkan dalam modul ajar atau RPP dapat dievaluasi efektif atau tidaknya dengan evaluasi hasil belajar siswa.

Setiap keputusan yang baik tentunya dihasilkan oleh pikiran yang jernih dan kondisi emosi yang stabil. Sebagai pemimpin pembelajaran yang berinteraksi dengan murid yang beragam tentunya tidak jarang menemukan masalah – masalah yang dapat mengganggu proses pembelajaran itu sendiri. Disinilah Kesadaran Sosial Emosional (KSE) harus berjalan dengan baik (modul 2.2). KSE ini meliputi Kesadaran diri, Manajemen diri, Kesadaran Sosial, Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab. Dalam penyelesaian masalah seseorang harus hadir sepenuhnya (mindfullness) sehingga fokus menjadi baik dan keputusan yang diambil sesedikit mungkin dampak negatifnya.

Dampak negatif yang kecil dapat kita peroleh juga dengan proses coaching yang baik, dimana coach berperan sebagai mitra yang siap membantu coachee untuk meningkatkan performa kerja, menemukan solusi atas permasalahannya, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dalam pembelajaran utamanya, peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui supervisi akademik (modul 2.3).

·         Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Dilema etika dan bujukan moral

Dilema etika merupakan situasi yang diperhadapkan pada dua pilihan yang mana kedua duanya secara moral benar, akan tetapi saling bertentangan. Situasi ini merupakan dimana kita harus membuat keputusan antara benar dan benar. Sementara Bujukan moral disisi lain merupakan situasi dimana pilihan yang diperhadapkan adalah benar dan salah.

4 paradigma pengambilan keputusan

Adapun 4 paradigma pengambilan keputusan adalah :

1.      Individu lawan masyarakat

Dalam hal ini adanya konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. Individu dalam paradigma ini tidak berarti satu orang, individu disini juga dapat berarti sebuah kelompok kecil dalam huhungannya dengan kelompok yang lebih besar. Dilema ini merupakan bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil, dan apa yang benar untuk kelompok yang lebih besar.

2.      Rasa keadilan lawan Rasa kasihan

Merupakan pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya, memilih antara keadilan dan perilaku yang sama bagi semua orang berdasarkan rasa hormat terhadap keadailan atau membuat pengecualian dengan mempertimbangkan kembali peraturan karena kemurahan hai, kebaikan dan kasih sayang.

3.      Kebenaran lawan kesetiaan.

Dalam hal ini ada kalanya kita membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia kepada orang lain, apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung kesetiaan pada profesi atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

4.      Jangka pendek Lawan jangka Panjang

Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari- hari, atau pada level yang lebih luas

 

3 prinsip pengambilan keputusan

Ada 3 prinsip dalam pengambilan keputusan yaitu:

1.      Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

Pada prinsip ini fokus keputusan adalah hasil akhir yang ingin dicapai, prinsip ini condong memperhatikan kepentingan/ kebaikan banyak orang atau kebaikan kelompok besar.

2.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

Prinsip ini berfokus pada aturan atau kebijakan yang berlaku. Keputusan yang diambil berdasarkan pada saeuai aturan atau melanggar aturan yang ada.

3.      Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Prinsip ini berfokus pada hubungan interpersonal, empati dan tanggungjawab. Keputusan yang diambil pada prinsip ini diambil dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap pihak yang terlibat.

Tiga prinsip tersebut sangat membantu dalam menganalisis situasi dan nilai nilai yang bertentangan, sehingga dengan memahaminya kita dapat mengambil sebuah keputusan yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan

1.      Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

Setiap situasi seringkali melibatkan nilai-nilai yang bertentangan, agar mendapatkan keputusan yang tepat, terlebihdahulu kita mengenali nilai nilai yang bertentangan pada situasi yang kita hadapi, sehingga kita dapat menentukan apakah situasi tersebut merupakan bujukan moral atau dilema etika.

2.      Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Langkah ini dilakukan untuk membantu memahami perspektif yang berbeda dari pihak yang terlibat dalam situasi tersebut serta dampak keputusan bagi masing masing pihak

3.      Kumpulkan fakta-fakta yang relevan

Proses pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail; apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, apa yang akhirnya terjadi. Data yang detail akan menjelaskan alasan seseorang melakukan sesuatu dan bisa juga mencerminkan kepribadian seseorang dalam situasi tersebut.

4.      Pengujian benar atau salah

Hal ini dilakukan untuk menilai apakah tindakan yang mungkin di ambil benar atau salah secara moral, dengan mempertimbangkan hukum, peraturan, dan nilai-nilai universal.

5.      Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi paradigma yang terjadi pada situasi tersebut hal ini dilakukan untuk membawa penajaman bahwa situasi yang dihadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

6.      Melakukan Prinsip Resolusi

Langkah ini dilakukan untuk melihat prinsip mana yang paling sesuai dengan situasi tersebut dengan menerapkan ketiga prinsip pengambilan keputusan.

7.      Investigasi Opsi Trilema

Langkah ini dilakukan untuk mencari opsi ketiga yang merupakan Solusi kreatif dan dapat mengakomodir semua nilai yang bertentangan.

8.      Membuat keputusan

Setelah melakukan langkah-langkah diatas, maka keputusan sudah dapat diambil, keputusan yang dibuat merupakan keputusan  yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

9.      Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.

Keputusan yang diambil perlu direfleksi dan dipelajari lebih lanjut agar dapat dijadikan sebagai pedoman untuk keputusan di masa depan

  • Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini, dalam pengambilan keputusan saya biasanya memanfaatkan prosedur umum yang berlaku di sekolah, yaitu berkomunikasi dengan pihak terkait seperti guru mata pelajaran, guru BK, Wakasek dan kepala sekolah, dengan bahan perbincangan yang mengalir apa adanya. Setelah mempelajari modul ini, saya mencoba menerapkan analisa berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. Perbedaannya diantaranya pola ini menjadi pakem baru yang sangat rinci, hati – hati dan tidak terburu – buru dalam membuat sebuah keputusan. Selain itu, pihak yang terlibat menjadi merasa dihargai dan bisa memberi kontribusi sesuai tupoksinya masing – masing.

  • Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Perubahan terbesar yang saya alami yaitu : pertama, Berhati – hati dalam bertindak dan mengambil keputusan. Kedua, mempunyai pola yang teratur dalam menganalisa sebuah masalah. Terakhir meningkatnya empati pada diri sendiri untuk memahami permasalahan yang terjadi pada orang lain.

  • Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting karena sebagai seorang individu membuat saya berkembang menuju arah yang lebih baik dan sebagai seorang pemimpin saya harus mampu mengambil sebuah keputusan terbaik dan bertanggung jawab.

 

Rabu, 28 Agustus 2024

Desiminasi Budaya Positif

  

Oleh : Solihin, S.Pd., M.Pd; Seorang guru di SMP Negeri 5 Pekanbaru dan salah satu Calon Guru Penggerak Angkatan 11 Kota Pekanbaru.



Dunia pendidikan hari ini menampakkan sisi terandahnya dalam proses pembelajaran dan pengajarannya. Mahasiswa di aniaya oleh seniornya, Kemudian di Kota Batu, Jawa Timur di keroyok oleh teman satu sekolahnya dan berakibat meninggal dunia. Disisi lain terjadi juga seorang guru SMP di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau melakukan tindakan asusila kepada muridnya. Hal-hal ini sangat mencoret pendidikan Indonesia saat ini.

Untuk itu, terobosan besar harus mampu di lakukan oleh kemetrian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia yang menjadi naungan pendidikan di Indonesia. Langkah-langka tegas, program-program apik perlu di buat untuk menjangkau pendidikan yang berkualitas. Agar tujuan bernegara dan berbangsa kita dapat tercapai dengan utuh.

untuk itu, melalui pendidikan guru pennggerak di buatkan satu modul tentang Budaya Positif. Berakar rumpun dari bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Maka proses pembelajaran yang di lakukan menurut KHD perlu menuntut murid dengan segala daya upaya yang berdasar kodratnya untuk mencapai keselamatan dan kebahagian yang tertinggi sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Murid mempunyai kesempatan untuk mengembangkan minat, bakat dan potensinya sebagai individu yang unik. Sekolah merupakan tempat terbentuknya kepribadian murid. Oleh karena itu, budaya positif harus diciptakan untuk mendukung pembentukan karakter siswa yang diharapkan. Guru yang baik harus mampu menciptakan budaya positif di sekolah. Budaya positif ini dapat diwujudkan dengan menerapkan konsep-konsep dasar, seperti: disiplin positif, motivasi berperilaku manusia, keyakinan sekolah/kelas, kebutuhan dasar anak, kompensasi pengendali jabatan, dan segitiga kompensasi.

Penting sekali untuk mengembangkan budaya positif di sekolah, karena Sekolah merupakan bagian dari pusat pendidikan tripartit, tempat tumbuh dan berkembangnya kepribadian anak. Salah satu langkah membentuk lingkungan kelas untuk menciptakan budaya positif adalah dengan membuat keyakinan kelas agar anak percaya diri dan sadar menerapkan disiplin berdasarkan motivasi internal agar anak mempunyai karakter yang baik menjadi profil pelajar Pancasila.

Pengimbasan ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya positif di sekolah dengan meyakini nilai-nilai universal kebaikan dan menciptakan siswa mandiri dan berdisiplin kuat sesuai profil pelajar Pancasila.

Dalam proses pembuatan aksi nyata pembuatan keyakinan kelas dan pengimbasan Budaya positif di sekolah. Saya memerlukan kerjasama kepada seluruh rekan dan steakholder yang ada di sekolah.

Langkah pertama ; Menghadap kepala sekolah untuk menyampaikan pentingnya penanaman budaya positif dan keyakinan kelas di sekolah, serta meminta izin untuk mendesiminasikan kepada rekan guru. Langkah kedua ; berkoordinasi dengan ketua komunitas belajar (Kombel) untuk menentukan jadwal dan tempat pelaksanaannya. Langkah terakhir ; melakukan desiminasi/pengimbasan budaya positif di sekolah.


Senin, 26 Agustus 2024 saya melakukan pengimbasan/desiminasi bersama rekan guru sejawat. Kegiatan pengimbasan ini sebagai ruang untuk berbagi informasi dan sebagai ruang untuk berkolaborasi antar tenaga pendidik di sekolah saya. Saya berharap ilmu yang saya dapatkan dalam Pendidikan Calon Guru Penggerak ini dapat bermanfaat bagi orang lain terutama rekan kerja saya dalam mendidik putra putri bangsa kita tercinta ini. Kami ingin bersinergi untuk belajar bersama tentang Disiplin Positif dan bagaimana strategi yang harus dilakukan untuk mewujudkannya menjadi budaya positif baik dilingkup kelas maupun sekolah. Dengan waktu kurang lebih satu jam kami di pertemukan dalam sesi kegiatan pengimbasan sederhana sehingga kita dapat saling berbagi ilmu serta pengalaman di kelas kami masing-masing. Harapan saya dengan mengajak rekan satu sekolah akan berdampak lebih luas dalam pengimbasan tentang budaya positif ini.

Pada sesi kegiatan pengimbasan tersebut kami belajar banyak sekali materi modul 1.4 di antaranya adalah :

1. Perubahan paradigma pembelajaran

2. Disiplin positif dan nilai kebajikan universal

3. Teori motivasi, hukuman, penghargaan, dan restitusi

4. Kebutuhan dasar manusia

5. Keyakinan kelas

6. Posisi control guru

7. Segitiga restitusi

Untuk lebih lengkap, berikut ini adalah materi saat saya melakukan pemaparan desiminasi/pengimbasan tersebut :

https://drive.google.com/file/d/1F3N63ZzgV-7Qn4hLRd_67BeYeDh08Cj0/view?usp=sharing

Berikut aksi nyata yang saya lakukan :

https://www.youtube.com/watch?v=0S3O6Xo-E3g

https://youtu.be/ZEEDVHbXTjI

Senin, 22 Agustus 2016

Melayu (Riau) Melawan Babusa

Melayu (Riau) Melawan Babusa
Oleh : Solihin,S.Pd

Gambar : Gugusan Pulau Nusantara; Melayu Riau

Orang Melayu mempunyai peradaban yang tinggi dalam memilihara tatanan nilai budaya menyangkut aspek sosial ekonomi, politik, agama, lingkungan, seni, teknologi, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut terdapat dalam kearifan lokal orang Melayu. Ciri yang melekat dalam kearifan lokal tersebut sifatnya dinamis, berkelanjutan, dan dapat diterima oleh komunitasnya. Dalam komunitas masyarakat lokal, kearifan tradisional mewujud dalam bentuk seperangkat aturan, pengetahuan dan juga keterampilan serta tata nilai dan etika yang mengatur tatanan sosial komunitas yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Sesuai dengan aturan adat, kearifan tradisional merupakan sebuah sistem dalam tatanan kehidupan social politik-budaya-ekonomi serta lingkungan yang hidup di tengah-tengah masyarakat lokal.  Orang Melayu mempunyai konsep filosofi dalam memilihara lingkungan ini yang dapat terlihat dalam ungkapan petatah petitih, syair, pantun, hikayat, dan dalam qanun tanah adat.[1]
Kehidupan orang tua-tua dahulu sangat erat kaitannya dengan Alam. Menyadari eratnya kaitan antar kehidupan manusia dengan alam, menyebabkan orang Melayu berupaya memelihara serta menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Dalam adat istiadat ditetapkan “pantang larang” yang berkaitan dengan pemeliharaan serta pemanfaatan alam, mulai dari hutan, tanah, laut dan selat, tokong dan pulau, suak dan sungai, tasik dan danau, sampai kepada kawasan yang menjadi kampung halaman, dusun, ladang, kebun, dan sebagainya.
Dalam pandangan Tennas Effendy, orang tua-tua Melayu masa silam amat menyadari pentingnya pemeliharaan dan pemanfaatan alam sekitar secara seimbang. Ketentuan adat yang mereka pakai memiliki sanksi hukum yang berat terhadap perusak alam. Sebab, perusak alam bukan saja merusak sumber ekonomi, tetapi juga membinasakan sumber berbagai kegiatan budaya, pengobatan, dan lain-lain yang amat diperlukan oleh masyarakat [2]
Orang tua-tua Melayu mengatakan bahwa kehidupan mereka amat bergantung kepada alam. Alam menjadi sumber nafkah dan juga menjadi sumber unsur-unsur budayanya. Dalam ungkapan dikatakan:

Kalau tidak ada laut
hampalah perut
Bila tak ada hutan
binasalah badan

Dalam ungkapan lain dikatakan:
Kalau binasa hutan yang lebat
Rusak lembaga hilanglah adat [3]

Gambar : Ilustrasi Kegiatan budaya Masyarakat Melayu

Ungkapan-ungkapan di atas secara jelas menunjukkan harmonisasi hubungan antara orang Melayu dengan alam sekitarnya. Kebenaran isi ungkapan ini secara jelas dapat dilihat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Secara tradisional, mereka secara turun temurun hidup dari hasil laut dan hasil hutan atau mengolah tanah. Secara turun temurun pula mereka memanfaatkan hasil hutan untuk berbagai keperluan, membuat bangunan, membuat alat dan kelengkapan rumah tangga, alat dan kelengkapan nelayan, alat berburu, alat bertani, dan sebagainya, termasuk untuk ramuan obat tradisional.
Banyak ungkapan-ungkapan tunjuk ajar yang terdapat dalam kehidupan orang Melayu, baik secara lisan maupun tertulis tentang pemiliharan lingkungan. Ungkapan-ungkapan tersebut terpelihara dalam budaya dan struktur masyarakat Melayu. Namun, nilai-nilai dan norma norma tersebut sebagian besar telah tercabut dari kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sistem kelembagaan adat melayu saat ini hanya menjadi simbol dan kamuflase belaka. Budaya bepantun kini hanya digunakan pada saat perhelatan pernikahan di kampung-kampung. Tunjuk ajar melayu dalam pergaulan, hubungan dengan pencipta dan juga hubungan dengan alam sekitar bak hilang ditelan bumi. Kini pepatah yang mengatakan “tak kan melayu hilang dibumi”  seperti tinggal angan belaka.  Pergerusan budaya yang seperti ini menjadi sangat berdampak buruk di dunia pendidikan, sosial ekonomi maupun lingkungan.
Kalau berbicara Riau maka tak terlepas dari Melayu. The Homeland of Melayu begitu tujuan dari pemerintah daerah provinsi Riau. Mewujudkan pembangunan masyarakat berbudaya, beriman dan bertaqwa. Tujuan ini agar masyarakat Riau tak tergerus oleh budaya asing yang masuk ketengah-tengah budaya kita. Mengembalikan kembali identitas budaya melayu yang kini kondisinya mulai tergerus budaya asing akibat arus globalisasi yang semangkin kuat pengaruhnya di negeri ini. Salah satu akibatnya ialah kekayaan alam yang ada di eksplorasi tanpa melihat keberlanjutan ekosistemnya. Budaya haus akan harta, ketamakan sementara,  menracuni pola pikir. Menghilangkan budaya melayu menjaga keselarasan hidup bersama alam. Pepatah petitih, pantang larang melayu tak digubris.
Mengakibatkan Babusa ( Bencana Kabut Asap) bertengger betah di bumi melayu ini semenjak 18 tahun yang lalu. Mereka seolah tak ambil peduli dengan hukum adat yang berlaku. Dua sinyalir penting yang dapat kita lihat dari kejadiaan ini. Pertama masyarakat melayu yang mempunyai kebudayaan itu sendiri yang merusak akibat tergoresnya budaya karena globalisasi. Yang kedua; para pendatang yang berdatangan ke Riau yang membuka lahan secara besar-besaran untuk digunakan sebagai tempat tinggal dan mencari nafkah dari hal ini.
Hutan yang ada di Riau dulunya sangat luas akibat penjagaan oleh masyarakat hukum adat. Masyarakat dahulu menyadari pentingnya ketergantungan dengan hasil alam. Mereka jua pandai merawat dan menjaga hutan. Kini penebangan hutan yang merajalela telah mengurangi luas hutan secara signifikan, dari 78% pada tahun 1982 menjadi hanya 33% pada 2005. Rata-rata 160,000 hektare hutan habis ditebang setiap tahun, meninggalkan 22%, atau 2,45 juta hektare pada tahun 2009[4]. Wajar jika kebakaran hutan dan lahan yang ada di Riau mengakibatkan Babusa (Bencana Kabut Asap). Delapan belas tahun lamanya masyarakat Riau menghadapi bencana tersebut menghidupkan budaya baru yang mengakibatkan penyakit baru dan persendatan ekonomi baru.

Gambar : Kebakaran lahan di salah satu Desa di Kabupaten Bengkalis

Budaya melayu yang ada diatas seharusnya dapat menjaga lingkungan sekitar. Petatah petitih, pantang larang yang ada di tengah masyarakat jika diterapkan akan memberikan efek jera. Namun arus globalisasi yang sangat deras mengakibatkan tergerus secara perlahan budaya tersebut. Hingga kini, budaya melayu sangat minim penghayatan dan pengamalannya. Budaya melayu tinggal sebutan di beberapa upacara atau agenda tertentu. Sementara pengamalan dalam kehidupan sehari-hari sudah hilang tergerus arus globalisasi.
Masyarakat yang seharusnya sebagai ujung tombak menjaga lingkungan dan budaya kini hilang akibat keegoisan masing-masing. Mereka sibuk mengurus urusan yang menguntungkan pribadi daripada mementingkan urusan bersama. Menjaga dan melindungi hutan dari keserakahan dan ketamakan sebagian manusia mereka tak sanggup. Praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme menjadi factor utamanya. Kesewenangan Pemerintah yang asal memberikan izin terhadap pihak swasta. Menjadikan masyarakat melayu kehilangan jati diri. Mengakibatkan kerusakan hutan, terusaknya ekosistem yang mengakibatkan bencana. Banjir ketika musim penghujan, kekeringan dan kebakaran ketika musim kemarau.
Permasalan ini menjadi Pekerjaan Rumah bersama diantara kita. Pemerintah (aparatur negara), masyarakat dan pihak swasta. Tidak saling menyalahkan, mari bergotong royong menjaga lingkungan. Jadikan kita peduli untuk menjaga lingkungan. Jadikan kita peduli untuk menjaga dan melindungi hutan. Mari membudayakan budaya melayu dalam segala aspek kehidupan. Menjadikan pepatah petitih yang ada untuk di amalkan. Menjadikan pantang larang dan hukum adat ditaati bersama. Maka terwujudlah kehidupan yang berdampingan, salaras dan serasi dengan alam.
Membudayakan melayu bagi masyarakat melayu dan Riau ini sebagai solusi tuntas kebakaran hutan dan lahan yang ada di Riau. Menghilangkan Babusa (Bencana Kabut Asap) di Riau. Saling menjaga dan melakukan pemeliharaan dan pemanfaatan seperlunya. Sehingga keselarasan hidup manusia dan alam dapat terjalin secara harmonis.

Gambar : Hidup berdampingan dengan Alam

Tak perlu berserakan peraturan menjegah kebakaran hutan dan lahan. Tak perlu menakuti masyarakat. Tak perlu memenjarakan masyarakat yang bersalah. Usah menggunakan ratusan milyar uang untuk melakukan pemadaman kebakaran. Cukup dengan membudayakan budaya melayu ditengah-tengah masyarakat kita. Menerapkan petatah petitih, pantang larang, serta hukum adat. Ciptakan sanksi sosial dan hukum adat yang tegas dan jelas.  Hingga melayu itu sendiri yang melawan Babusa.





[1] Husni Tamrin; Marjinalisasi Tanah Adat dan Kearifan Lingkungan Orang Melayu. 2014
[2] Husni Tamrin; Ibid. 2014
[3] Tennas Effendy Tunjuk Ajar Melayu (Butir-Butir Budaya Melayu Riau). Yogyakarta: Adicita Karya. 2004
[4] Wikipedia Indonesia. Pemerintah Provinsi Riau. (akses; 19 Agustus 2016)

Rabu, 10 Agustus 2016

Poros Maritim Indonesia ; Nyata Kaya, Tapi Miskin

Poros Maritim Indonesia ;
Nyata Kaya, Tapi Miskin
Oleh : Solihin,S.Pd


Negara Kesatuan Republik Indonesia yang di proklamirkan oleh para pendiri bangsa mengisaratkan bahwa negeri ini kaya akan sumber daya alam. Melimpah ruah seperti lagu nusantara yang berjudul “Kolam Susu” Karya Koes Plus. Ini  mengingatkan akan satu hal, bahwa negeri kita sangat kaya. Sebatang kayu yang ditancapkan kedalam tanahpun tumbuh menjadi tanaman, inilah tanah kiriman surga, bandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah bersalju, hanya beberapa tanaman yang bisa tumbuh. Airnya pun di ibaratkan dengan kolam susu, penuh dengan aneka macam ikan, diambil setiap hari oleh nelayan, tidak pernah habis, sumber makanan bisa dihasilkan sendiri dengan mudah, sumber energi minyak bumi dan batu bara banyak sekali tersimpan dibawah negeri ini, bahkan Indonesia sebenarnya mampu hidup tanpa campur tangan negeri lain, justru negeri lain sangat takut akan kemandirian Indonesia.
Indonesia sangat diuntungkan dengan posisi yang di apit oleh dua benua Asia dan Australia serta dua samudra yaitu samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Menjadikan Indonesia sebagai jalur akses pelantara perjalanan tol laut maupun penerbangan yang ada. Namun kita belum bisa berbenah secara utuh, hanya beberapa daerah yang dijadikan prioritas sehingga menimbulkan kesenjangan antara Indonesia Bagian Barat dan Indonesia Bagian Timur.
Mulai dari kesenjangan harga pangan dan sembako hingga pembangunan Sumber Daya Manusia yang ada. Kesenjangan ini diakibatkan oleh pengelolaan jalur perdagangan laut yang tidak difasilitasi dengan baik. Dengan kata lain, sarana dan prasarana jembatan, dermaga dan lain-lain masih ada daerah yang tidak ada dermaga. Hal seperti ini menjadi ironi yang sangat disayangkan karena tidak mencerminkan Negara Indonesia sebagai Negara Kepulauan terbesar di dunia
Pejabat negeri ini selalu menjelaskan ketidak siapan kita dalam mengelola sumber daya alam yang ada. Keterbatasan anggaran dalam mengelola dan lain sebagainya. Ini lah yang membuat negeri ini selalu jauh dari kemandirian. Pejabat negeri ini selalu pesimis dalam berbagai kemajuan untuk kemandirian negeri. Tak heran jika ketergantungan dengan negara luar sangat erat. Sementara alam kita terbentang sangat luas dan kaya akan kekayaan sumber daya alam.
Ribuan triliun anggaran pendapatan dan belanja Negara pertahun selalu dihabiskan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi bukti nyata dan konkritnya masih belum kelihatan. Ribuan triliuan uang Indonesia terhamburkan entah kemana. Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Pengelolaan Sumber Daya Alam masih banyak yang kurang tepat pada sasaran. Pembangunan Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia terutama disekto kemaritiman masih sangat minim.


Indonesia yang terdiri dari 13.487 pulau besar dan kecil. Menjelaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara kepulauan yang terbesar. Sejarah menyebutkan bahwa Kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari kekuatan kerajaan-kerajaan yang ada di masa lampau. Mereka telah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Hindia, Arab, Turki dan lain sebagainya. Dalam menjalankan hubungan dimasa lampau tidak terlepas dari sosok kerajaan yang kuat dibidang kemaritiman. Menaklukkan laut, gelombang, badai, berlayar dengan waktu yang cukup lama. Kekuatan yang ada di zaman dulu seharusnya membuat generasi penerus kita bangga. Tidak sebalikknya menjadi pemalas. Sejarah-sejarah kerajaan yang ada di Indonesia sebagian besar memiliki kekuatan besar dalam penaklukan wilayah laut. Seperti kerajaan Riau Lingga, Kerajaan Siak Sriindrapura, Kerajaan Sriwijaya dan masih banyak lagi.


Menjadi sangat penting kita mempelajari hal-hal yang tidak tersirat dalam kisah-kisah kerajaan yang ada di Indonesia. Ini yang menjadikan generasi penerus bangsa lupa akan asal usul negaranya. Mereka tergiurkan dengan kemajuan teknologi, diperbodoh dengan dunia internet. Penumbuhan semangat nasionalisme perlu untuk kita gencarkan sehingga Indonesia menjadi Negara yang Berdikari.
Kekayaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia serta Sejarah Indonesia seharusnya dapat dijadikan bekal membangun Indonesia yang Sejahtera dan Bermartabat. Akan tetapi kemiskinan masyarakat terus merajalela. Rakyat yang hidup dan tinggal bergantung kepada hasil laut saat ini sudah tidak terberdayakan. Mereka lebih memilih untuk mencari penghidupan yang lain. Sementara laut kita kaya akan sumber daya alam nya. Ikan tersebar, dikuras setiap hari, tapi tak habis-habis. Namun apa yang terjadi terhadap nelayan kita, mereka termasuk golongan masyarakat miskin. Siapa yang salah.? Pemerintahkah,? Atau mereka sendiri,?
Pemerintah jangan hanya membuat kebijakan yang menimbulkan keberpihakan dan menguntungkan sebagian masyarakat. Bantuan jala, kapal dan lain sebagainya mungkin menjadi hal kecil bagi pemerintah, namun ini menjadi hal sangat berarti bagi para nelayan kita. Inilah yang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) kita bersama. Kekayaan laut kita melimpah, masyarakat berusaha, namun akibat beberapa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sehingga dapat merugikan masyarakat dan menguntungkan sebagaian pihak saja.
Menjaga lingkungan agar nelayan kita tetap bisa berpenghasilan. Menghasilkan tangkapan yang sehat bagi masyarakat Indonesia. Jauh dari itu, bagun poros maritim, tumbuhkan semangat nasionalisme kepada generasi penerus bangsa. Bukan hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah, tapi juga masyarakat setempat. Sadarkan diri untuk saling menjaga lingkungan dan menjaga kelestarian alam.  Semoga kenyataan Indonesia kaya akan Sumber Daya laut nya benar-benar dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia, bukan hayalan belaka.

Salam Hangat
ttd
Solihin,S.Pd
Masih Banyak belajar, Sile coret-coret di komentar untuk masukan dan kritikannye.
Jazakumullah Khairan Katsir. Terima Kasih. Thanks You.