Kapan Profesional ?
Kapan
Profesional ?
#SbT
Jengkel.
Kesal. Pasti akan datang dalam diri masing-masing pribadi kita ketika itu tidak
sesuai dengan apa yang diharapkan. Aku akan mulai bercerita tentang kita.
Tentang bagaimana kita profesional. Bagaimana kita bisa mengelastiskan diri.
Dulu
aku di usung oleh partai besar untuk duduk sebagai anggota dewan di tingkat
nasional. Awalnya aku ragu, takut tak amanah, tak bisa menciptakan sesuatu yang
benar menjadi benar dan yang salah menjadi salah. Takut tak bisa membagi waktu
antara tugas sebagai anggota dewan dan tugas kepartaian. Entah rayuan ataupun
apa aku mengiyakan semua yang di janjikan oleh partai pengusung ku.
Pendaftaran
yang menjadi syarat utama menjadi anggota dewan tak aku urus karena hati ini
masing meragukan nya. Tapi aku tak tau kenapa dalam berkas-berkas yang ada
sudah ada namaku disana sebagai salah satu bakal calon anggota dewan.
Sebelumnya aku tak pernah membentuk Tim pemenangan apalagi tim kampanye setiap
bakaln calon anggota dewan. Hingga aku menerima sebagai anugrah dari Tuhan Yang
Maha Esa.
Verifikasi
berkas dan kelengkapan yang kurang aku lakukan dengan sigap. Karena sebelumnya
telah ku pikirkan dengan proses yang panjang. Mungkin disini aku bisa menjadi
orang yang bisa memperbaiki kehancuran negeri yang entah berantah ini. menjadi
profesionalisme. Menjadi orang yang berguna untuk semua elemen masyarakat.
Mendedikasikan diri untuk menciptakan negeri yang bermartabat, bermarwah.
Hingga aku bertekat untuk membabat semua proses, kebijakan, kerjasama luar
negeri yang tak sesuai dengan aturan main di negeri ini. tak ada mengenal kata kawan untuk masalah
ini. aku coba profesional dengan semua ini, kawan.
Masa
kampanye aku lalui seperti biasa tanpa ada kesiapan dan umbar janji seperti
kebanyakan orang. Bahkan aku tak ada mengeluarkan materil yang mengharuskan
merogoh kantong dalam-dalam apalagi berhutang kemana-mana. Tidak seperti itu
kawan.
Proses
dan tahapan pemilu aku ikuti dengan seksama. Hingga tiba saatnya pengumuman
anggota dewan diumumkan. Sebelumnya aku
tak menggunakan tim penghitung suara dari partai apa lagi buatan sendiri. Aku
hanya menunggu proses nyata dari Komisi Pemilihan Umum, sebagai lembaga yang
berwajib mengumumkan itu semua. Hingga aku diumumkan sebagai calon yang
mempunyai kekuatan tertinggi di daerah pemilihan, menempati urutan suara
terbanyak pertama di daerah pemilihan dari sekian partai yang bertanding di
pemilu tahun ini.
Alhamdulillah
aku syukuri denga semua yang ada. Namun amanah ini pasti berat kawan. Tapi
apalah daya, aku tak punya kekutan yang dapat ditolak karena aku sudah
mengiyakan semua nya. Tinggal bagaimana aku menjalankan semua proses yang ada
secara profesiaonal.
Duduk
di ketua komisi yang menangani Konstitusi negara, membuat aku harus lebih giat
lagi belajar, memahami semua peraturan yang ada. Hingga proses peraturan
perundang-undangan yang ada tak bisa lolos dari hadapan komisi ini.
produk-produk hukum yang ada sudah selesai tinggal menunggu waktu yang tepat
untuk proses di lakukan sidang paripurna menempatkan nya dalam peraturan
perundang-undangan Nasional.
1
tahun berlaku semua masih baik. Sepak terjang semua anggota dewan masih tak
kelihatan siapa yang bermuka belang. Namun setelah berjalan beberapa bulan dari
pasca penepatan APBN. Semua pada ricuh. Sibuk sendiri. Belum lagi kita
disibukkan dengan hubungan kerja sama luar negeri yang tak sesuai dengan
prosedur pemberlakuan hukum dalam negeri. Prusahaan asing dengan mudah diberi
izin ikut menghancurkan negeri dengan embel-embel investasi. Organisasi luar
negeri yang tidak menjadi kolega atau mitra di babat habis dari bumi pertiwi
tanpa melihat hasil yag diberikan bagi negeri. Tapi ketika itu termasud kolega
dan mitra yang disana ada pemerintah yang tak tau apa yang sebenarnya ia
lakukan di negeri ini. hingga pemerintah memberikan IZIN masuk. Namum itu semua
hanya ucapan masih dimulut oleh organisasi tersebut. Tak ada wujud nyata
pembuatan program yang dijanjikan.
Aku
sebagai anggota dewan dengan sigap melakukan berbagai macam cara untuk mengusir
organisasi tersebut. Tapi dan ternyata anggota dewan yang lain sudah DISUAP
hingga tutup mulut. Tak berbicara sepatah kata pun. Jengkel, geram. Permainan
busuk ini menunjukan bahwa negeri ini krisis orang jujur yang bisa profesional
dalam kerja. Hancur dalam akhlak. Percuma berbicara akhlak, kejujuran, tapi
semua hanya ucapan yang tak kunjung terealisasi.
Semangat
ku pun mulai menurun tapi entah lah. Aku mulai menyadari untuk tidak melakukan
sesuatu yang itu malah menghancurkan diri sendiri dengan mundur dari jabatan.
Tapi kalau tidak kita yang mengubah kahancuran, kejelekan ini siapa lagi ?.
kalau tidak sekarang kapan lagi ? #Pikirku dalam hati.
#SbT
